Apabila kita sedang berpikir tentang akhlak atau berbicara tentang akhlak maka yang dipikirkan bukanlah akhlak orang lain (menilai orang lain). Tetapi yang dipikirkan maupun dibicarakan pada zaman sekarang adalah akhlak orang lain kepada kita atau bisa disebut dengan mengoreksi kesalahan orang lain. Sedangkan menurut baginda Rasulullah SAW, yang dipertanyakan adalah akhlak kita kepada orang lain dan terlepas dari bagaimana akhlak orang lain kepada kita. Sebaiknya kita menilai dan bukan mengoreksi.
Apa berbedaan antara “menilai” dan “mengoreksi”?
Kalau mengoreksi, yang kita cari adalah kesalahan dari seseorang. Sedangkan menilai, yang kita lihat adalah kebaikan dari seseorang serta menghargainya. Apabila kita sedang mengingat kebaikan siapapun, niscaya suasana hati kita selalu sejuk. Akan tetapi bila ada salah satu saudara yang pemarah maka ingatlah kepada Alloh serta katakan dengan jelas dalam hati dan bibir jangan sampai bergerak “Ya, Alloh…. Semua yang baik-baik berasal dari Alloh sedangkan yang jelek adalah cermin hati ini dan berarti masih ada sifat pemarah”.
Penerapan dari akhlak di atas tidak semudah yang kita baca tetapi semua pasti bisa asalkan kita lewat jalan yang lurus (thoriqoh yang resmi dari Alloh SWT) yang dibawa oleh baginda Rasulullah SAW yaitu syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji bilamana mampu serta berbuat baik kepada kedua orang tua dan kedua mertua. Apabila yang fardhu dilakukan karena Alloh maka akibatnya adalah yang sunnah pasti ikhlas. Seandainya bekerja pasti akan ikhlas dengan hasilnya, seandainya menikah pasti akan ikhlas dengan istrinya dari segala kekurangan dan kelebihannya, dan seandainya mempunyai anak pasti akan menerima dengan penuh tawakal berapapun jumlahnya dan bagaimanapun sifatnya.
Bilamana bekerja dengan ikhlas maka tidak akan mungkin mengikuti demo dengan teriak-teriak di pinggir jalan mengenai kenaikan gaji. Dan seandainya meminta kenaikan gaji pasti dengan cara bermusyawarah dan seorang mukmin tidak akan melakukan hal tersebut. Seorang mukmin apabila menyebut asma Alloh dengan suara rendah serta menunduk dengan rasa rendah hati dan bukan rendah diri. Baginda Rasulullah tidak mengajarkan teriak-teriak di pinggir jalan. Walaupun tujuannya untuk mencegah kemungkaran tetapi sebenarnya kemungkaran berada di hatinya sendiri. Apabila secara tidak sengaja kita mengetahui kemungkaran orang lain sebaiknya kita hanya sekedar mengingatkan dengan penuh kasih sayang.
Orang yang berilmu sangatlah baik, tetapi bilamana orang merasa punya ilmu maka sangatlah membahayakan orang lain. Jagalah hati ini dari sifat-sifat kafir dan janganlah berkeluh kesah mengenai apa saja.
Pada zamannya baginda Rasulullah masih hidup, beliau sering membahas mengenai shodaqoh dan yang dimaksud shodaqoh ialah shodaqoh kita kepada mereka. Tetapi pada zaman sekarang yang dimaksud shodaqoh ialah shodaqohnya mereka kepada kita. Hal tersebut sungguh membuat malu baginda Rasulullah karena yang dibahas sama tetapi yang dimaksud jauh berbeda.
Tawadhu atau tata krama juga sering dibahas pada zaman sekarang. Tetapi bukan tata krama kita kepada mereka melainkan tata krama mereka kepada kita. Bukankah hal tersebut adalah gila hormat?
