Saudara-saudaraku dimanapun anda berada serta tinggal dimanapun anda. Syariat Islam yang jumlahnya ada lima dan kelimanya sama dengan satu kesatuan tubuh manusia secara utuh. Dua kalimah syahadat, rukun Islam yang pertama adalah perumpamaan ruh seseorang. Shalat lima waktu adalah perumpamaan dari seluruh tubuh manusia. Menunaikan zakat adalah perumpamaan dari makan seseorang. Puasa dibulan suci ramadhan adalah perumpamaan dari mandi dan wudhu seseorang. Sedangkan pergi haji bilamana mampu adalah perumpamaan pakaian seseorang. Apabila hal tersebut dijalani secara utuh dan benar karena Alloh, barulah anda bisa berpedoman kitab suci Al-Quran dan bisa memahami ayat-ayatnya. Penjelasan tersebut adalah jalan yang lurus (Syariat Islam) yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Kitab suci Al-Quran memang pedomannya manusia yang bertaqwa atau takut kepada Alloh. Apabila ibadah karenaselain Alloh walaupun hafal Al-Quran maka tidak akan bisa memahami isinya.
Ada satu riwayat yaitu pada saat sahabat Tsa’labah menjadi makmur setelah mendapat doa dari baginda Rasulullah. Setelah tiga bulan Tsa’labah tidak datang dan akhirnya baginda Rasulullah bersabda “sudah tiga bulan Tsa’labah tidak hadir dan tidak membayar zakat”. Kemudian baginda Rasulullah mengutus salah satu sahabat untuk menjemput Tsa’labah akan tetapi dia menolak membayar zakat dan menolak datang. Kemudian baginda Rasulullah bersabda “kasihan, Tsa’labah”.
Riwayat pada zaman Rasulullah tersebut zakat dilaksanakan setiap bulan. Yang dimaksud zakat disini adalah zakat rukun Islam yang ketiga sedangkan zakat fitrah setahun sekali adalah syarat rukunnya puasa. Meskipun demikian kami tidak menyalahkan anda karena hal tersebut adalah kebebasan tiap pribadi-pribadi. Hanya saja pada jamaah kami, menunaikan zakat rukun Islam yang ketiga setiap sebulan sekali. Apabila zakat rukun islam yang ketiga dilakukan secara berjamaah maka bisa dikumpulkan berupa uang sedangkan cara pembagiannya kepada yang berhak berupa bahan pokok (beras). Uang yang dikumpulkan senilai dengan harga beras 2,5 kg, sekali lagi hal tersebut terserah pribadi anda. wa aqimu sholata wa atuzzakah
Saudara-saudaraku, kita semua tahu bahwa Islam adalah agama yang terang. Jadi alangkah baiknya bilamana kita berterus terang dan tidak ada yang kami sembunyikan.
Alloh SWT, baik pada masa lalu dan masa sekarang serta masa yang akan datang tidak pernah “berkata”, “bersabda”, dan “berbicara”. Alloh SWT selalu berfirman.
Baginda Rasulullah Muhammad semenjak dilahirkan hingga wafat tidak “berkata” atau “berbicara” tetapi beliau selalu “bersabda”.
Tetapi kalau manusia biasa seperti kita ini selalu berkata atau berbicara. Oleh karena itu selalu banyak bicara.
Demikian harap direnungkan. Salam untuk umat Islam di seluruh dunia.
