Manusia yang bertaqwa selalu berdialog dengan Alloh SWT disetiap saat melalui ayat-ayatnya yang nyata.
Contohnya :
“Pada suatu negeri ada hutan yang terbakar sehingga membuat pandangan orang menjadi terbatas. Banyak orang yang menderita sesak nafas dan penyakit pada bagian mata serta banyak berbagai macam masalah yang timbulkan.”
Makna dari cerita tersebut yaitu :
“Hutan adalah alas/ dasar. Dasar berarti syariat Islam, bilamana syariat Islam tidak dijalankan dengan utuh kelimanya. Niscaya, ucapan dan tidakannya serta pendapatnya selalu menjadikan orang lain ikut menderita dan mudah terjadi salah paham antar sesama sehingga menjadikan paham yang salah. Serta menjadikan orang berpandangan sempit.”
Oleh karena itu, kejadian tersebut adalah peringatan dari Alloh SWT untuk kita semua bahwa setiap orang tidak diperkenankan saling menyalahkan. Lima yang kami maksud adalah syahadat, sholat, zakat, puasa, dan haji bilamana mampu dijalankan karena Alloh. Kitab suci Al-Quran bukan dasar tetapi pedomannya lil muttaqin (orang yang bertaqwa). Bukan pedomannya orang yang takut dipecat atau takut miskin. Berhentilah saling menyalahkan dan marilah kita mengoreksi diri sendiri. Marilah kita bersama-sama bersatu padu saling memaafkan dan saling memaklumi. Niscaya akan menjadi sebuah negeri nan elok bagaikan untaian ratna mutu manikam.
Marilah kita bersama-sama mencintai negeri ini. Menjaganya dengan penuh rasa ikhlas, saling menghormati, dan saling merhagai satu sama lain serta janganlah memandang seseorang dari warna kulit atau agamanya. Semuanya bisa terwujud apabila dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan kerja, dan dimasyarakat. Apabila seseorang berpikiran seperti di atas, niscaya orang tersebut bilamana tinggal di negara manapun akan membuat suasana aman dan nyaman. Sifat dapat mempengaruhi keadaan atau suasana. Sifatlah yang mempengaruhi rupa dan bukan rupa yang mempengaruhi sifat.
Lawan yang sesungguhnya bukanlah manusia tetapi syaitan dan jin. Akan tetapi syaitan dan jin berada pada setiap hati masing-masing. Oleh karena itu berlindunglah kepada Alloh dari godaannya dengan lewat jalannya yaitu syariat Islam. Apabila bisa memenuhi kewajibannya kepada Alloh maka orang tersebut bisa memenuhi kewajiban kepada sesama.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa-jasa para pahlawannya. Jiwa yang besar adalah orang yang menghargai orang lain dan menghargai hasil karyanya. Hati seseorang akan tentaram dan bahagia bilamana tidak ada seorang pun yang ia benci dan tidak sedang mengharapkan sesuatu dari seseorang serta mensyukuri apa adanya maka hati ini akan selalu sambung dengan Alloh SWT. Apabila ada yang ditunggu dari seseorang maka di dalam saraf sudah pasti ada yang meregang.
Janganlah mengharapkan pujian dari siapapun, apalagi memuji diri. Memuji diri adalah cikal bakal dari kesombongan. Sedangkan kesombongan adalah jalan terbuka untuk suatu keterpurukan, hanya Alloh yang berhak dipuji. Bagi orang yang beriman akan sangat malu ketika dipuji karena sadar bahwa yang baik-baik atas kehendak Alloh sedangkan yang buruk-buruk penyebabnya diri sendiri.
Orang bijak apabila kehilangan sesuatu maka di hatinya tidak terfokus pada siapa yang mencuri. Akan tetapi berfokus pada alasan sampai dicuri dan dalam hatinya mencari penyebabnya. “Ada kemungkinan bahwa uang yang digunakan untuk membeli barang yang hilang adalah uang yang tidak seharusnya”.
Demikian dengan kejadian terbakarnya hutan, seharusnya tidak sibuk dengan mencari siapa yang membakarnya akan tetapi lebih baik mencari penyebab sampai ada seseorang yang membakar. Mengoreksi dirilah, apakah karena seringnya terjadi perdebatan? Apa karena sering mencari kambing hitam? Hal tersebut sudah jelas urusan para negarawan.
Ada seseorang kehilangan uang atau mobil, pasti hatinya akan sakit. Sesungguhnya yang membuat sakit bukanlah uang atau mobil tersebut tetapi yang membuat sakit adalah rasa memiliki. Apabila sebelumnya ia sadar bahwa harta dan anak adalah amanat/ titipan maka seandainya hilang, ia tidak terlalu sakit/ segera sadar. Bilamana Alloh masih berkenan menitipkannya maka pasti akan segera ketemu atau dikembalikan melalui yang lainnya. Sesungguhnya di dunia ini tidak ada sesuatu yang hilang melainkan yang terjadi hanyalah pindah tempat. (dm)
