Riwayat Kalimosodo ini dimulai pada tahun 1992
Pada waktu itu istri saya menderita sakit kanker ganas ( fibro sarkoma grade I). Kami berobat selama tiga tahun dan dioperasi sebanyak tiga kali. Segala peraturan kami ikuti dan sampai pada akhirnya dokter menyatakan bahwa sudah tidak ada obat yang mampu mengobati kanker yang diderita istri saya. Dokter menyarankan untuk berusaha ke pengobatan alternatif (non medis). Pada akhirnya langkah yang kami ambil ialah berusaha mendekatkan diri kepada Alloh SWT karena kami yakin hanya Alloh Yang Maha Penyembuh dan Maha Tahu.
Pada suatu waktu saya diberi petunjuk tentang obat yang sangat rinci dan detail, baik bahan-bahannya serta cara pembuatannya. Akan tetapi bukan obat kanker yang sangat kami perlukan saat itu melainkan obat HIV/ AIDS. Pada waktu itu saya merasa sangat kecewa. Tanggal 03 Maret 1993 istri saya meninggal dunia di usia 27 tahun. Betapa sangat sedihnya saya pada waktu itu. Kami berumah tangga selama 13 tahun tidak pernah sekalipun bertengkar dan dikaruniai dua orang anak. Selama tujuh hari di dalam dada ini seperti ada batu sebesar gardu (pos keamanan). Pada saat itu hati saya gelap gulita hingga tidak bisa berbicara sepatah kata pun.
Dalam kondisi yang demikian, saya merenung bahwa Alloh tidak akan menguji hambanya kecuali sebatas kemampuan. Disitu hati saya mulai ada setitik cahaya di kegelapan yang semakin lama semakin berkembang. Akhirnya saya mengerti bahwa “meninggalnya istri saya bukanlah karena kanker, tetapi memang sudah sampai pada garis yang sudah ditentukan oleh Yang Maha Penentu. Seandainya istri saya tidak menderita kanker hari itu, detik itu juga meninggal.”
Empat tahun kemudian saya menikah lagi dan dikaruniai empat orang anak. Jadi anak saya semua berjumlah enam orang anak. Kami bersyukur semua sehat-sehat semua. Pelan-pelan tapi pasti Alloh terus memberi petunjuk tentang pengobatan secara rinci. Ternyata segala penyakit memang ada obatnya kecuali pikun, bahkan penyebabnya pun kami diberi tahu oleh petunjuk Yang Maha Tahu. Meskipun demikian kami tetaplah sadar bahwa kami bukanlah dokter, ilmuwan atau profesor. Kami sering melihat banyak yang sudah terinfeksi virus HIV/AIDS yang penyebarannya melebihi lalat dan kami menunggu para ilmuwan. Kenapa tidak segera dicarikan solusinya?
Bahkan menurut saya, dunia ini hampir dikuasai virus yang ganas ini. Umat manusia tidak jauh bedanya dengan robot. Perlu anda ketahui bahwa dunia ini saat ini keadaanya persis seperti wanita tua, rambutnya acak-acakkan mengidap virus HIV/ AIDS dan badannya banyak benjolan karena berbagai jenis kanker serta berjalan sambil terseok-seok seiring Sang Waktu, tinggal menunggu kiamat kubro. Sungguh bilamana anda memahami hal ini, betapa lambatnya penanganan WHO, penanganan Menteri Kesehatan. Akhirnya kami putuskan bahwa penyakit ini bukan hanya WHO, bukan hanya Menteri Kesehatan yang bertanggung jawab terhadap semua umat manusia. Akan tetapi mengurus surat-surat untuk obat Kalimosodo ini jauh lebih sulit, jauh lebih rumit dari pada membuat (meramu) mengsimplisiakan pembunuh virus itu sendiri. Keputusan ini, kami sertai dengan pembuatan obat yang dimulai pada tahun 2011 yang lalu dan kami bersyukur hingga hari ini sudah cukup banyak yang berhasil sembuh untuk HIV/ AIDS, apalagi kanker, mulai kanker otak stadium empat, sudah lupa dengan sanak saudaranya, sudah tak bisa bergerak. Penderita penyakit tersebut seteleh mengkonsumsi Kalimosodo selama 6 bulan kembali segar bugar dan dapat beraktivitas seperti biasanya. Namun saya tetap sadar, bahwa sembuhnya beliau bukanlah karena kami obati , tetapi atas kehendak Yang Maha Penyembuh.
Pengertiannya : “Alloh menghendaki orang itu sembuh, sehingga dipertemukanlah dengan Kalimosodo”.
Apabila itu disadari maka kita tidak akan terjangkit penyakit sombong atau menyombongkan diri.
Pada tahun 2011, kami membuat obat Kalimosodo dan langsung dibuktikan lewat laboraturium di Surabaya. Kami sudah berusaha mengurus ke RI 1 tapi hingga kini tidak ada kabarnya. Tanpa sengaja ada seorang dokter dapat tugas belajar ke negeri Thailand. Di sana ada respon karena memang terbukti membunuh virus HIV/ AIDS, bahkan kami sempat dikirimi contoh obatnya yang sudah berbentuk cair dalam kapsul. Tetapi tidak ada kabarnya hingga hari ini. Mereka tidak mengerti bahwa obat ini asalnya dari petunjuk Yang Maha Penyembuh, intisari dari kitab suci Al-Quran. Dengan adanya kesulitan yang kami hadapi selama ini maka kami beritikad untuk kami tangani sendiri. Oleh karena itu tidak bisa diurusi dengan cara bisnis tapi bisa diurusi dengan cara kemanusiaan. Apabila diurus dengan cara bisnis bisa mengakibatkan tidak berperikemanusaiaan. Apabila diurusi dengan cara kemanusiaan, maka bisnis tetap berjalan. Bukankah Rizki dari Alloh? Itu bagi pendapat orang-orang mukmin. Atas petunjuk Yang Maha Penyembuh kami membuat obat herbal yang sama sekali tidak ada bahan kimia. Yang bisa membunuh virus HIV/ AIDS dan membunuh segala sel kanker tanpa harus dioperasi. Biasanya yang datang pada kami adalah pasien yang menurut medis sudah menyatakan tak ada harapan, sudah stadium empat. Tetapi kami bersyukur sembilan puluh persen berhasil sembuh. Itupun kami haqqul yaqin atas kehendak Yang Maha Penyembuh.
